Minggu, 05 April 2009

Payung


Oleh Gungde Ariwangsa SH

Program Atlet Andalan (PAL) yang diluncurkan Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga sudah bergulir. Sentuhan dari ide besar dan strategis Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Kabinet Indonesia Bersatu, DR Adhyaksa Dault SH, MSi itu mulai menyinari kehidupan olahraga di Tanah Air. Khususnya pada 20 cabang olahraga yang terdaftar masuk dalam PAL.

Secara de facto dan de jure memang sampai saat ini PAL baru mengatur … atlet dan … pelatih dari 20 cabang olahraga. Ke depan tentnya jumlah itu bisa bertambah atau berkurang seiring dengan kemajuan dari para atlet yang pantas masuk kategori andalan. Meskipun demikian, bukan saja gaung namun dampak positif dari PAL sudah terasa di mana-mana. Baik di kota maupun di daerah.

Kini orang sudah mulai berbicara tentang pentinnya suatu program pembinaan modern yang professional dengan jangka waktu panjang dan berjenjang seperti yang digariskan dalam PAL. Perubahan ini mengikis mindset lama yang dikungkung oleh cara instant dalam pembinaan peningkatan prestasi. Pemikiran tentang juara tidak dilahirkan namun dibentuk dengan program modern melalui proses berjanjang dan panjan secara perlahan namun pasti mulai berhembus di kancah olahraga nasional.

Diakui atau tidak PAL bukan saja menghadirkan gelora semangat baru namun juga paradigma baru dalam dunia olahraga di Tanah Air. Para atlet yang dulu hanya melakukan persiapan saat masuk training centre di pusat dan kemudian lepas bebas bagai burung saat usai mengikuti pertandingan kini mulai dipantau secara konsisten persiapan dan kondisi dimana pun atlet itu berada. Pelatih tidak bisa lagi lepas tangan karena sudah dibekali program yang harus dijalankan.

Pengurus induk organisasi cabang olahraga (Pengurus Pusat atau Pengurus Besar) juga ikut tertarik oleh perputaran roda paradigma baru ini. Mereka harus terus memantau kondisi para atletnya sehingga nanti memang bisa diandalkan ketika diusulkan untuk membla nama bangsa dan negara ke kekgiatan event maupun multi event SEA Games, Aian Games maupun olimpiade.

Begitulah peran strategis dari PAL. Terbukti bukan hanya mengurusi prestasi karena sudah bisa menghadirkan perubahan pemikiran tentang pentingnya program pembinaan modern di setiap lini olahraga. Apalagi bila dikaitkan dengan program PAL lainnya yang memikirkan tentang masa depan dan lifestyle para atlet. Secara keseluruhan PAL memang bukan hanya urusan prestasi namun juga masa depan yang berujung pada keagungan atau kegemilangan olahraga.

Intinya olahraga bukan lagi hanya sekadar sampingan dalam pembangunan bangsa dan negara. Olahraga sudah menjadi profesi yang pantas diandalan dan bisa menjadi pilar pada perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Bagi yang berpikir positif sudah pasti kehadiran PAL tidak perlu lagi diperdebatkan. Program untuk kegemilangan olahraga Indonesia ini justru harus didukung penuh.

Pemerintah era duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla sudah menunjukkan political will pada pekermbangan olahraga di Tanah Air melalui PAL. Agar langkah ini terus bergulir menuju ke arah kegemilangan pemerintah perlu memberikan paying hukum yang kuat sehingga tda surut lagi ke belakang. Payung hukum yang sangat diharapkan dan didambakan para insane olahraga nasional bisa berbentuk Perpres atau Kepres. Sutu landasan kuat yang akan makin memantapkan langkah menyebrangi jembatas emas kegemilangan. Semoga. ***

• Penulis adalah Rdaktur Olahraga HU Suara Karya. Saran dan masukan silakan layangkan ke e-mail: aagwaa@yahoo.com
Readmore »»

Sudah Jadi Bubur


Oleh Gungde Ariwangsa *

TARIK menarik kekuatan antara Komite Olahraga Nasional/Komite Olimpiade Indonesia (KON/KOI) dan Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dalam urusan pembinaan prestasi olahraga di Tanah Air semakin kentara dan jelas. Kantor Menegpora yang dimpimpin oleh Menpora Adhyaksa Dault meluncurkan Program Atlet Andalan (PAL) sejak Januari lalu. Setelah itu KON/KOI yang dipimpin oleh Rita Subowo kemudian mengimbangi dengan membentuk Pemusatan Latihan Nasional Terpadu (Peltu).

Begitulah puncak persaingan dua lembaga yang bertanggung jawab terhadap hitam putihnya olahraga Indonesia. Ternyata dua lembaga yang seharusnya bahu membahu membina dan meningkatkan prestasi olahraga Indonesia justru tarik menarik. Sungguh memprihatinkan keadaan ini muncul pada saat prestasi olahraga Indonesia semakin tertinggal di persaingan regional, Asia maupun dunia.

Bersatu saja sudah berat bagi Indonesia untuk bangkit dalam persaingan paling bawah di kawasan Asia Tenggara. Apalagi kini terpecah belah tentunya perjuangan makin berat untuk bisa menegakkan Merah Putih agar kembal gagah berkibar di percaturan olahraga Asia Tengara, Asia maupun dunia.

Adakah ini dampak dari reformasi yang kebablasan di bumi Nusantara? Olahraga yang semestinya menjadi contoh bidang lain dalam menegakkan fair play dan pershabatan justru ikut larut dalam gonjang ganjing adu kekuatan demi kepentingan kelompok dan ego sektoral. Sirna sudah kata-kata luhur persahabatan yang merupakan roh dari olahraga. Menipis pula kata-kata sakti warisan para nenek moyang dan pejuang pendiri negara ini yaitu Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.

Kata pepatah, nasi sudah jadi bubur. Apa yang semula diharapkan baik bertolak belakang dalam fakta. Mau memasak nasi malah menjadi bubur. Apakah ini berarti olahraga Indonesia sudah hancur lebur? Belum. Masih ada peluang untuk memperbaikinya.

Syaratnya mudah yakni kebesaran hati dari pihak-pihak yang bersaing dalam berebut kepentingan dan pengaruh sehingga memunculkan dualisme dalam dunia olahraga di negara yang kita cintai ini. Bukan justru terus bersitegang sehingga lupa pada tujuan utama membangkitkan dan meningkatkan prestasi olahraga Indonesia yang sudah tertinggal jauh dari para negara tetangga.

Apalagi dipanaskan lagi dengan gaya dan bahasa ala preman yang main ancam dan menekan. Kemudian memecah belah lewat fitnah dan penggalangan dukungan sehingga olahraga ini dihiasi oleh intrik dan sikap saling curiga.

Permainan seperti itu bukan saja amat jauh dari sikap sportivitas. Namun juga membuat ada pihak-pihak yang bermain untuk memanfaatkan keuntungan. Di depan berteriak sebagai pahlawan padahal penjahat dan rampok. Para “Sengkuni” inilah yang akan memetik keuntngan. Mereka membiarkan nasi yang sudah jadi bubur tercerai berai ke tanah dan kemudian menjilatnya demi kekenyangan perut dirinya dan punakawannya. Jika orang-orang seperti dibiarkan maka wajar saja olahraga Indonesia tidak akan pernah sepi dari intrik dan konflik.

Demi mengikis kondisi tidak kondusif itu tidak ada pilihan lagi kecuali, masing-masing pihak harus menampilkan pikiran positif sehingga nasi yang sudah jadi bbur itu bisa tetap dinikmati dengan enak dan sedap dalam suasana penuh persahabatan dan bahkan persaudaraan. Disinilah kedua belah pihak menyatu untuk memasak bubur itu menjadi santapan yang lezat dan bergizi bagi olahraga Indonesia. Misalkan pihak Menpora menginstruksikan jajaran agar menjaga bubur itu jangan sampai hangus dan terbuang ke jalanan. Pihak KON/KOI menyiapkan jajarannya agar menyediakan bumbu yang pas.

Dengan demikian nasi yang sudah jadi bubur itu bisa bermanfaat bagi dunia olahraga dan masyarakat Indonesia. Dari sini juga rakyat Indonesia bisa menilai, suatu yang semula diperkirakan hancur lebur bisa terselamatkan dan bahkan ditampilkan sebagai andalan bangsa dan negara di percaturan internasional lewat penyelesaian fair play dan sportif. Hanya dengan kerendahan hati sikap kestaria akan muncul. Bukan justru dengan gaya preman dan pikiran sempit serta picik.

Semoga sportivitas masih melekat pada jiwa dan hati para pembina olahraga Indonesia. Jangan sampai olahraga sebagai pengusung sportivitas dan fair play terjerumus lebih dalam lagi. Mari merenung sejenak: “Apakah spotivitas masih ada dalam jiwa kita masing-masing?” Setelah itu mari berteriak dengan keras dan lantang: “Jayalah Olahraga Indonesia”. ***

• Penulis adalah Redaktur Olahraga HU Suara Karya dan mantan Ketua Siwo PWI Jaya. Kritik, saran dan masukan layangkan ke e-mail: aagwaa@yahoo.com
Readmore »»

Selasa, 28 Oktober 2008

Animo Gede, Tinggal Bagaimana Menindaklanjuti

Oleh: Agus Aribowo (Wartawan Majalah TENNIS Indonesia)

PERHELATAN tenis internasional tidak asing bagi publik tenis Balikpapan. Betapa tidak, sejak 2003 lalu, kota "selicin minyak" ini telah menggelar Men's Satelite, Men's Future dan Women's Circuit berhadiah total USD 25.000. Dan kini, di saat Indonesia dilanda krisis ekonomi (dampak krisis dari AS), kota berlogo Berung Madu ini jadi tuan rumah kejuaraan tenis junior se Asia-Oceania.
Perhelatan yang diikuti 15 negara se Asia-Oceania dan melibatkan 128 petenis, 40 pelatih serta 25 official ini menjadi penyejuk kerinduan publik tenis Balikpapan usai Pekan Olahraga Nasional XVII yang berakhir 17 Juli lalu. Maka tak heran, kendati di hari Senin (27/10) saat pembukaan, Balikpapan Tennis Stadium diguyur hujan deras tak menyurutkan pecinta tenis Balikpapan untuk menyaksikan gawe akbar ini.

"Kita sih sebenarnya tidak asing lagi dengan penampilan petenis manca negara. Karena kami sudah pernah menyaksikan mereka sejak 2003 lalu. Tapi, kali ini beda. Yang tampil di sini adalah petenis-petenis muda masa depan. Ini yang membuat kami harus mengajak anak didik kami untuk jauh-jauh menyaksikannya," ujar Gunawan Sasho.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat kota Balikpapan ini getol banget menjadi tuan rumah perhelatan tenis intetnasional maupun nasional? Menurut Ketua Pengkot PELTI Balikpapan, Susan Soebakti, SH, MM adalah "Demi Pembinaan". Sebuah wawasan apik yang bernilai tinggi.
Tenis, memang bukannya cabang yang tidak memiliki prestasi bagus bagi warga Balikpapan dan Kaltim pada umumnya. Saat ini saja, Balikpapan memiliki prestasi bagus di Kejuaraan Nasional Mini Tenis/Tenis Usia Dini dan junior. M Faisal Aidil adalah produk kota penghasil minyak bumi ini. Dan, masih banyak lagi nama lain yang masih berusia belia.
Saat ini, Balikpapan yang juga memiliki stadion termegah di Indonesia (nomor dua di Asia setelah China), benar-benar membidik tenis sebagai andalan pembinaan olahraganya. Hebatnya lagi, bukan hanya isnan tenisnya saja yang getol, tapi juga pemerintah kotanya sangat mendukung. Dan sangat kebetulan pula, Walikota dan wakilnya, H Imdaad Hamid, SE serta H Rizal Effendi, SE adalah pelaku tenis aktif.
Maka tak heran, jika Balikpapan boleh dibilang sebagai sentra pembinaan dan aktivitas pertenisan nasional setelah Jakarta. Ini bukan istilah "Jualan Kecap". Namun kenyataan. Kegiatan tenis di kota ini sangat banyak. Mulai dari yang bertajuk "Tenis Gembira" yang dilaksanakan untuk bapak-ibu (pecinta tenis) sampai perhelatan internasional ada di kota ini.
"Bicara tenis di kota ini memang aneh tapi nyata. Bayangkan, mulai dari walikota, wakil, Dandim sampai bapak-bapak dan ibu rumah tangga, banyak yang main tenis. Dan mereka umumnya memiliki komunitas tersendiri. Jadi, jangan heran jika tenis itu menjadi olahraga utama di kota Balikpapan," ujar Ny. Nely, penggiat tenis di kalangan ibu-ibu Kota Balikpapan.
Nah kini, setelah memiliki banyak turnamen dan aktif bermain tenis, tinggal menunggu tindaklajutnya saja. Semoga, klub-klub baik swasta maupun "plat merah" lebih giat lagi membina. Pembinaan memang jauh lebih penting dilakukan dibanding hanya menjadi penggelar turnamen saja. Kenapa? Karena, bagaimana pun juga memiliki petenis berprestasi internasional lebih penting dan membanggakan daripada hanya menjadi penggelar turnamen internasional saja.
Memang, saat ini Balikpapan memiliki Beatrice Gumulya, Jessy Rompies, Sandy Gumulya dan Elbert Sie, yang telah meng-internasional. Tapi, mereka itu kan pemain kontrakan dan bukan hasil murni publik tenis Balikpapan (Kaltim). Namun, setidaknya, setelah mampu membina sekumpulan petenis nasional itu, ada baiknya, dan memang harus berfikir dan bertindak membina lagi. Siapa tahu, dalam waktu yang tak lama (5 tahunan) Kota Balikpapan punya petenis profesional buah dari maraknya perhelatan tenis internasional yang selama ini digelar. Semoga...! ***
Readmore »»

Senin, 23 Juni 2008

Ujian Akhir Nasional (UAN)


Oleh: Gungde Ariwangsa SH

ANAK-anak pelajar mulai dari sekolah lanjutan atas, sekolah lanjutan pertama dan sekolah dasar pasti tengah berdebar-debar. Terutama bagi yang duduk di kelas akhir (kelas tiga untuk SLTA dan SLTP dan kelas enam untuk SD). Mereka tengah menanti dari hasil ujian nasional (UAN). Lulus, tidak, lulus, tidak, lulus ….. Kata-kata itulah yang berkecamuk dalam pikiran mereka.

Jika lulus UAN bukan berarti tugas sudah berakhir. Masih ada lagi ujian akhir sekolah masing-masing. Usai ujian kembali mereka berdebar-debar untuk menanti pengumuman soal lulus atau tidak.

Selesai? Ternyata belum. Jika lulus maka mereka masih disibukan oleh urusan untuk mencari sekolah lanjutan di atasnya. Yang SLTA memburu tempat kuliah di perguruan tinggi. Yang SLTP tentu mencari tempat di SLTA. Demikian juga yang SD mengincar SLTP.

Pendidikkan sudah menjadi tututan utama bagi anak-anak muda sekarang. Ini untuk menyiapkan masa depan mereka. Untuk itulah semuanya berlomba untuk mendapatkan pendidikkan yang lebih tinggi. Semuanya ditentukan oleh target atau cita-cita yang hendak dicapai.

Dikaitkan dengan karier seorang petenis maka jenjang pendidikkan itu juga hampir sama harus dilalui. Dalam dunia tenis juga ada jenjang yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan baik prestasi mau pun materi.

Untuk tingkat nasional tentu ada juara klub dulu terus naik ke tingkat kabupaten/kota. Setelah itu naik lagi ke jenjang provinsi. Lebih tinggi lagi naik ke tingkat nasional. Sudah cukup? Belum karena bagi petenis yang mempunyai target atau mimpi besar tentu tingkat nasional atau juara nasional dan lokal itu baru merupakan tingkatan dasar.

Dari tingkat nasional itulah pemain yang serius berkaier di tenis perlu meningkatkan lagi prestasinya ke ajang dunia yang tingkatan turnamennya dimulai dari circuit, challenger, terus ke tier dan grand slam. Dari jenjang itu tentunya sudah bisa dilihat dimana sebenarnya kategori pemain Indonesia saat ini.

Ternyata untuk putra maupun putri, pemain-pemain Indonesia belumlah mampu beranjak dari tingkat dasar. Semuanya masih bangga dengan prestasi tingkat nasional alias juara lokal. Belum ada yang berani melontarkan target dan upaya serta usaha untuk menapak ke jenjang yang lebih tinggi.

Lalu sampai kapan ini akan terjadi? Semuanya tentu tergantung dari para pemain sendiri. Punya mimpi atau cita-citya besar tidak? Dari sinilah baru kemudian menyusun langkah untuk bisa lulus dari berbagai tingkatan. Cukup lulus SD, SLTP, SLTA atau Universutas? Semuanya terserah kepada pemain masing-masing. Yang jelas saat ini jangan bangga dulu dengan prestasi yang diraih karena dalam jenjang turnamen dunia pemain Indonesia masih termasuk di tingkat dasar. Dikaitkan dengan UAN, pemain Indonesia belumlah lulus dari UAN SD. ***

Penulis adalah wartawa HU Suara Karya. Saran dan masukan kirim saja ke e-mail: aagwaa@yahoo.com

Readmore »»

Angklung

Oleh: Gungde "Cinta" Ariwangsa

KEJUTAN dihadirkan panitia penyelenggara turnamen Jubilee School 14U Asian Tennis Championship 2008. Saat acara pesta makan malam peserta dari 17 negara di Cengkeh Room, Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Rabu (26/3), panitia menyajikan hiburan musik angklung. Jelas mengejutkan karena alat musik trasionil Jawa Barat itu bisa memberikan nuansa lain dalam acara yang dihadiri seluruh peserta, petinggi Jubilee School dan tentunya juga anggota pengurus Pelti termasuk Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja dan Sekjen PP Pelti Soebronto Laras.

Selain mengejutkan, sajian angklung itu termasuk luar biasa. Bagaimana tidak? Musik angklung yang mengalunkan lagu “Suwe Ora Jamu” dan “Edelweis” disajikan dengan apik oleh seluruh peserta yang berasal dari berbagai negara itu. Ternyata musik angklung bisa dengan cepat dimainkan oleh orang luar negeri.

Padahal mereka berlatih tidak lebih dari dua minggu. Itu pun dilakukan di sela-sela kesibukan menjalankan latihan dan pertandingan di Pusat Tenis Kemayoran, Jakarta Pusat dari 17 – 30 Maret. Para pelaku tenis dari manca negara itu memainkannya dengan serius dan penuh penghayatan. Dari sini tercermin apa pun bisa dilakukan jika dilakoni dengan serius dan enjoy.

Alunan musik angklung malam itu membuat pikiran melayang jauh. Kenapa musik tradisionil Indonesia yang sempat diklaim sebagai ciptaan Malaysia itu bisa dimainkan dengan baik oleh anak-anak negeri lain? Kuncinya ada pada factor kedisiplinan para pemain melakoni perannya sehingga tidak ada kesan tumpang tindih dan berebut peran. Yang lebih penting lagi, pemimpinnya atau dirigen sudah menetapkan arah lagu apa yang akan dimainkan sehingga semua pemain bisa menekuni perannya dengan baik.

Seandainya saja dirigennya tidak jelas maka keharmonisan tidak akan tercipta karena para pemain angklung tidak bisa melaksanakan perannya dengan terarah baik. Begitu juga bila para pemain lari dari perannya masing-masing maka keindahan nada tidak akan tercipta. Kondisi itu akan membuat kekacauanlah yang mencuat ke permukaan.

Musik angklung memberi pelajaran agar masing-masing orang melakoni perannya secara disiplin, serius dan benar dengan tujuan yang jelas. Suatu yang berguna bagi insan tenis baik itu pemain, orangtua pemain, pelatih, maupun pembina. Pemain ya melakoni perannya sebagai pemain dengan tujuan memburu prestasi terbaik dan tertinggi. Orangtua memberi dukungan kepada anaknya tanpa harus ikut campur dalam kepelatihan atau pembinaan. Pelatih melakukan fungsinya melatih dan menambah ilmu kepelatihan dengan tekun. Pembina juga demikian. Pembina memberikan arahan yang jelas apa yang akan dicapai secara jelas, tegas dan konskwen.

Alangkah indahnya bila semua insan tenis sejat Indonesia tahu dan mengerti posisi masing-masing serta tujuan yang akan dicapai. Barangkali kebersamaan bukan hanya menjadi slogan namun benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan berpatokan pada tujuan yang akan dituju. Bukan berjalan sesuai dengan kehendak sendiri-sendiri sehingga bisa menimbulkan salah arah dan salah kaprah. Angklung ternyata bukan sekadar alat musik dari bamboo. ***

· Penulis adalah wartawan HU Suara Karya. Kritik dan saran kirimkan ke email: aagwaa@yahoo.com atau HP: 081513873418
Readmore »»

Manis Dan Sayang

Oleh: Gungde Ariwangsa

SPORTIVITAS merupakan jiwa dari olahraga. Sudah sepatutnyalah setiap orang yang mengaku pecinta olahraga menjiwai roh dari olahraga itu. Termasuknya tentunya para insan tenis sejati di tanah air.
Dalam sportivitas itu terkandung makna sikap yang adil (jujur) terhadap lawan, sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang yang sportif menunjukkan sosok yang gagah dengan sikap kesatria dan jujur.
Masalah sportivitas ini menjadi penting dikemukakan seiring dengan regenerasi yang dilakukan Pengurus Pusat Pelti dalam tim nasional. Suatu langkah berani yang pantas mendapat dukungan dari semua pihak karena memiliki tujuan jauh ke depan. Bukan hanya untuk kepentingan sesaat.
Untuk itulah mari langkah PP Pelti itu disambut dengan sportif. Baik oleh pihak yang berada dalam jajaran kepengurusan Pelti maupun insan tenis yang tidak masuk di dalam kepengurusan Pelti. Sikap sportif itu diharapkan nantinya akan menular kepada para pemain muda yang kini mendapat kepercayaan memperkuat tim nasional dan juga petenis-petenis lainnya.

Alangkah indahnya bila jiwa sportif bisa melingkupi semua warga tenis Indonesia. Dengan demikian segala jalan, masukan, saran dan kritik yang ditujukan pada program regenerasi itu semuanya dilandasi oleh kejujuran dengan tujuan untuk memajukan dan membangkitkan kembali kejayaan tenis Indonesia.
Bukan dilandasi oleh sikap yang melenceng jauh dari sikap-sikap sportif. Sikap tidak sportif akan melahirkan tindakan menang-menangan. Sungkatnya, sikap mau menang sendiri.
Regenerasi yang dilakukan PP Pelti sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Para pemain muda yang selama ini diragukan kemampuannya ternyata bisa melaksanakan tugas awal dengan baik dalam membela nama bangsa dan negara. Tim tenis putri Piala Federasi (Fed Cup) yang diperkuat Sandy Gumulya, Ayu Fani Damayanti, Lavinia Tananta, Vivien Silfany Tony dan cadangan Jessy Rompies berhasil memenuhi target untuk bertahan di Grup I Zona Asia-Oceania setelah membuat kejutan menaklukkan tim unggulan India dan Australia. Kemudian tim Piala Davis (Davis Cup) dengan materi Elbert Sie, Christopher Benyamin Rungkat, Andery Setyawanto, Ayrton Wibowo dan David Agung Susanto juga mampu mengamankan target untuk bertahan di Grup II setelah mengalahkan Hong Kong.
Awal manis dari para pemain muda itu tentu belumlah sempurna. Masih banyak hal yang perlu ditingkatkan lagi. Tetapi sebagai permulaan dari suatu program besar sudah bisa dijadikan sebagai momentum untuk melihat dan mengevaluasi kelebihan dan kekuarangan yang ada. Satu hal positif dari para pemain muda ini yakni semangat tanding dan keberanian mengemban tugas berat. Mereka tampil tanpa beban sehingga bisa menyajikan aksi atraktif di lapangan. Pemandangan yang sudah lama hilang dari tenis Indonesia.
Sangatlah sayang bila awal manis ini tidak bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Apalagi kemudian dirusak oleh tindakan-tindakan tidak sportif. Jadi marilah awal manis ini diisi dengan sportivitas baik oleh pemain, pelatih, pengurus maupun oleh pelaku tenis lainnya. Dengan demikian masing-masing akan menyadari ada kelemahan dan kesalahan sendiri kemudian mau mengakui keunggulan dan kelebihan pihak lainnya. Alangkah indahnya bila semua bisa menjiwai sportivitas yang merupakan roh dari olahraga itu sendiri. ***

· Penulis adalah wartawan HU Suara Karya. Masukan dan saran layangkan ke e-mail: aagwaa@yahoo.com atau kontak: 081513873418.
Readmore »»

Jumat, 20 Juni 2008

WANITA


Oleh Gungde Ariwangsa
KEMANAKAH pilihan PB Pelti diarahkan ketika pemilihan Ketua Umum KONI Pusat pada Musyawarah Olahraga Nasional KONI X/2007, 21-23 Februari lalu? Kepada Rita Subowo yang akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum KONI masa bakti 2007 - 2011? Ataukah mengarah ke Luhut Binsar Panjaitan yang dikalahkan Rita 38 - 43 pada pemilihan yang berlangsung menegangkan dan dramatis?
Tentu sangat sukar untuk menebaknya. Sebab pemilihan dilakukan secara tertutup. Hanya Ketua Umum PB Pelti Martina Widjaja yang tahu pasti kemana suara PB Pelti mengarah. Sebab Martina lah yang melakukan pencoblosan di kotak suara. Bisa ke Rita, bisa pula ke Luhut, bahkan mungkin juga tidak sah.

Begitulah keuntungan pemilihan secara bebas, umum dan rahasia. Semuanya tidak ada yang tahu pilihan seseorang. Jika sampai ada yang tahu maka tentu patut dipertanyakan bagaimana itu bisa terjadi. Bisa saja yang melakukan pemilihan menceritakan pilihannya. Atau bisa juga ada permainan pada kotak suara dengan memberikan nomor, tanda atau kode khusus sehingga nantinya akan diketahui siapa memilih siapa.
Mungkinkah cara-cara tidak sportif yang menodai jiwa olahraga dan proses demokrasi itu dilakukan? Susah juga menjawabnya. Jika percaya kepada nilai-nilai sportivitas tentu hal itu tidak akan dilakukan oleh insan-insan olahraga yang berkecimpung dalam Musornas itu. Namun kalau mendengar ada pernyataan yang mengemukakan, ketika kotak suara hasil pemilihan dicek ternyata diketahui kemana suara PB Pelti maka praktek kotor itu pantas diduga terjadi di Musornas.
Oke, lupakan saja semua itu. Mari sambut sejarah baru yang telah dicetak oleh Rita sebagai wanita pertama yang menjadi Ketua Umum KONI. Naiknya Rita sebagai orang nomor satu di percaturan olahraga makin mengukuhkan peran wanita di kancah olahraga nasional. Sebelumnya dia bersama Martina Wijaya, Miranda Gultom dan kini ditambah Noviantika Nasution merupakan wanita-wanita yang menduduki jabatan ketua umum induk organisasi cabang olahraga.
Rita sebelum naik menjadi Sekjen KONI Pusat dan kini Ketua Umum KONI pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia. Martina menjadi orang nomor satu di PB Pelti. Miranda memimpin PB Gabsi (bridge). Noviantika dipercaya memimpin PB Perbasi (basket).
Namun kiprah Rita hampir serupa tapi tak sama dengan Martina. Selain memang gila olahraga, Rita juga merintis kariernya di olahraga dari bawah. Setelah menjadi pemimpin PB PBVSI dia juga aktif melakukan lobi ke tingkat internasional. Hal yang sama juga dilakukan oleh Martina. Jadi bisa dikatakan Rita memang pas untuk terpilih karena dia mencintai olahraga dan mempunyai komitmen tinggi pada bidangnya.
Akankah Rita bisa mengibarkan kembali kejayaan olahraga Indonesia? Semuanya akan tergantung pada kejelian Rita dalam memilih anggota kabinetnya. Jangan sampai Rita menempatkan orang-orang yang nantinya akan menjadikan KONI sebagai tempat mencari kesibukan bahkan juga mencari keuntungan-keuntungan tertentu.
Selain itu Rita juga harus benar-benar memperhatikan atlet yang menjadi pelaku utama dalam menentukan prestasi olahraga Indonesia. Sebagai wanita dia tentu mempunyai jiwa keibuan yang akan tahu kebutuhan-kebutuhan anak-anaknya. Kebutuhan para atlet yang merupakan anak-anak bangsa.
Biarlah semuanya mengalir bagaikan air. Kini arahkan pandangan ke depan dengan harapan semoga hasil Musornas KONI bisa menghadirkan perubahan pada dunia olahraga Indonesia yang tengah terpuruk ini. Harapan besar kini tertuju kepada Rita Subowo untuk mengangkat kembali prestasi olahraga Indonesia menuju ke masa kejayaan. ***
Readmore »»